Pulang lebih awal. Sampek dibilang “tumben pulang jam segini”. Padahal udah magrib. Suamiku udah nunggu di luar gerbang dengan tak sabar. Motor siap berangkat. Seperti biasa, jalanan mancet. Sebelum menuju ke tempat yang dituju, kami mampir dulu ke rumah untuk sholat magrib dan istirahat sejenak. Sekitar pukul 7, kami berangkat ke tempat yang dituju. Rumah Sakit Budi Kemuliaan yang di jalan Guntur.
Jalan menuju kesana rusak. Aspalnya dah ga ada dan banyak lubang-lubang. Parah banget pokoknya. Ni pemerintah kudu lebih memperhatikan pada perbaikan jalan juga neh setelah dikuranginya subsidi BBM. Loh, kok jadi ngomongin pemerintah. Balik ke topik awal!
Sesampainya di Budi Kemuliaan, kulihat banyak pasangan sumai istri sedang duduk-duduk di ruang tunggu menanti gilirannya diperiksa. Keder juga seh. Merasa menjadi orang awam dalam hal-hal seperti ini. Tanpa menghiraukan rasa minderku, aq menghampiri resepsionis untuk mendaftar dan mendapat giliran nomor 22. Nomor 22, padahal yang diperiksa saat itu masih nomor 8. Huff!! Sabar nunggu aja deh. Pendaftarannya biasa aja seh. Ngisi nama alamat dan pekerjaan. Dan akhirnya adalah menimbang berat badan. Terakhir aq nimbang berat badan cuma 46 Kg, sekarang menjadi 48 Kg. Udah nambah 2 Kg dalam 1 bulan saja. Hebat ya!
Sambil menanti 14 pasien diperiksa, aq dan suamiku nonton sinetron yang ditayangkan di televisi. Acaranya mulai dari sinetron yang ada anak kecil bernama Baim sampek sinetron Umairoh selesai. Lama banget khan. Hampir 2 jam menunggu. Sayang, karena aq dan suamiku terbawa emosi pada sinetron Umairoh sehingga ketika giliranku diperiksa, kami berdua ga tau. Ketika lihat di papan periksa kok sudah sampek 24, kapan 22 nya?? Aku lalu crosscheck ke suster penjaganya. Ternyata sudah dipanggil-panggil, tapi kaminya yang ga denger. Padahal deket banget lho ![]()
OK. Akhirnya giliran aku masuk ke ruang periksa. Tentunya ditemani suamiku lah.Dokternya cowok, lumayan ramah, udah tua tapi yang penting baek. Pertama ketika suamiku ditanyai dokter, aq periksa tensi darah. Alhamdulilah tensiku naek dari 90/70 menjadi 107. Tapi sakit deh pas periksa tensi itu. Seperti ada yang nusuk-nusuk. Abis itu aku disuruh berbaring ke tempat tidur. Aku mau lihat anakku… Di layar monitor di depanku, aku lihat anakku masih sangat kecil. Bentuknya seperti gambarannya anak kecil yang cuma kepala dan badan aja, kakinya ga kelihatan. Lucu…. Jantungnya kecil dan berdetak. Dia gerak-gerak. Subhanallah, alhamdulilah. Ada kehidupan di perutku. Suamiku bukan maen senangnya. Sampek di rumah ga henti-hentinya suamiku mengulang-ngulang informasi tentang anakku. Kecil, cuma 52mm. Gerak-gerak dan kelihatan denyut jantungnya. Dan tak sabar menanti bulan Desember.
Setelah melihat anakku itu, aq harus lebih hati-hati menjaga kesehatan aku. Aku berharap semoga anakku nanti lahir sehat dan tumbuh dengan baik, menjadi anak yang dicintai semua orang, yang sholeh dan sholehah, berbakti kepada orang tua, dan hal-hal baik lainnya. Aku sangat bersemangat sekali. Ridhoi hamba Ya Allah, semoga hamba bisa membesarkan anak hamba dengan baik. Anak yang Engkau ridhoi. Amin ya Robbal’alamin. (^_^)

Rangga berkata,
Juni 6, 2008 pada 11:19 am
wah… mbah dan rukma, aku sdh dibuatin ponakan nih
. dijaga baik2 anaknya ya Ruk, smoga kandungan sehat, bersalinnya lancar, dan anaknya entar jd anak sehat, pinter, dan yg paling penting taat beribadah. AMIN
(kapan yo iso nyusul….
)
saiful Haqqi berkata,
Juni 6, 2008 pada 11:20 am
hi mee,
weh…………… selamet-selamet …. dah mau jadi ibuk nih. Pasti seneng banget nih waktu nulis blog ini.
Anaknya mau dinama’in sapa nih SIS, jadi inget bang Nawi nih SISm Kelahiran anak ditandai dengan BBM naik tinggi.
Tak doa’in sehat selalu deh sekeluarga, lancar rejeki’e.
~ saiful haqqi ~
PS: kapan-ku punya pacar
bayu berkata,
Juni 9, 2008 pada 9:31 am
Alhamdulillah, Semoga anak kita menjadi anak yang sholeh / sholehah, yang selalu membuat orang tua dan orang2 disekitarnya tentram dan penuh kedamaian. amin
I Love U so much